Sederhana

Alhamdulillah, untuk kata pertama yang dikeluarkan dari lisan kita. Mari bersyukur kepada Rabb Semesta Alam yang telah memberikan kenikmatan tak terhingga jumlahnya nikmat yang diberikan kepada kita semua dari sejak kita dalam kandungan sampai kelak kita menghembuskan nafas terakhir kita. Kemudian marilah kita keluarkan kata sholawat kepada beliau Sang Nabi teladan, pemimpin yang sempura, guru yang sempurna, ayah yang sempurna, sang komandan perang yang sempurna dan kesempurnaan-kesempurnaan yang lain yang telah melekat pada kemakhsumannya.

Alhamdulillah, saya sangat bersyukur karena pada kesempatan kali ini masih diberi kesempatan untukberbagi inspirasi, berbagi pikiran dan berbagi sebuah tulisan yang sederhana. Kali ini saya akan berbicara tentang hal-hal kecil yang sering diremehkan yang sebenarnya pada hakikatnya hal kecil itu merupakan hal yang luar biasa apabila dilakukan.

Teringat dengan sabda Nabi, “Amal yang paling dicintai Allah SubhanAllahu wa Ta’ala adalah amal yang sedikit/kecil tapi istiqomah”. Kawan, mulailah berpikir bahwa perubahan besar berawal dari akumulasi ide-ide yang kecil dan termasifkan dalam beberapa terapan system besar yaitu Islam. Coba kita berpikir, system yang sempurna dan lengkap, system yang mampu mengatur manusia dari dalam kandungan sampai manusia mati, system yang mampu mengatur kehidupan dunia dan akhirat, yaitu system Islam ini. Tahukah kawan, bahwa system yang sangat kompleks ini berawal dari sebuah kesederhanaan. Kesederhanaan yang dilakukan oleh orang yang ummi. Kesederhanaan orang nomor satu di dunia dan akhirat. Kesederhanaan orang yang peduli dengan masyarakatnya kala itu. Dan dari kesederhanaan perbuatan yang telah dijagaNya munculah ide untuk menyendiri, memikirkan masadepan masyarakat jahiliah kala itu yang masih menyembah berhala. Tahukah kawan, ide yang sederhan (red.kecil) ini berupa aktivitas keheningan yang akal dan pikiran sangat focus pada solusi. Dan pada malam yang dingin dan gelap kala itu. Mengalirlah satu kata ghaib yang menembus dinding pembatas antara dunia dan akhirat, satu kata yang bersumber dari Dzat Pencipta Seluruh ‘Alam ini, satu kata yang dibawa melalui perantara malaikat nomor satu Nya. Dan saat dimana Dia tahu kondisi terbaiknya, dibacakanlah satu kata sederhana itu kepada manusia sempurna, “IQRA” yang artinya “Bacalah”. Ingat kawan, system Islam yang rahmatanlil ‘alamin ini berawal dari kesederhanaan satu kata firman. Dan dari kesederhanaan ini terbentuklah system Islam yang sempurna. Ini merupakan salah satu contoh kata Allah yang pertama kali turun di bumi.

Kita yakin, bahwa ketika Allah menurunkan firmanNya, pasti ada sebabnya. Dan pada kesempatan kali ini saya tidak akan membahas sebab turunnya ayatNya. Akan tetapi saya akan berbicara tentang hikmah Allah SubhanAllahu wa Ta’ala pada malam bulan Ramadhan kala itu hanya menurunkan satu kata saja. Hal itu tentu ada hikmah yang dapat kita petik. Hikmahnya adalah bahwa segala sesuatu yang dapat bermanfaat untuk kesejahteraan pasti berawal dari kesederhanaan ide kreatif. Saat kita mampu kreatif memberikan masukan kecil tapi dengan hati ikhlas dan maksud yang tulus maka hal itulah yang sejatinya dinantikan para pembaharu zaman ini. Persis seperti sunah beliau Shallallahu ‘alai wa Sallam tentang hal kecil yang lebih disukai Allah SubhanAllahu wa Ta’ala apabila dilakukan dengan istiqomah. Istiqomah yang saya maksudkan adalah ketika ide-ide kecil yang istiqomah dijadikan sebuah solusi perubahan yang pada awalnya sederhana maka hal itulah yang pada hakikatnya diharapkan oleh para relawan Islam zaman ini.

Ibaratnya seperti saat semua orang di dunia ini ingat dengan kesejahteraan tetangga rumahnya, maka saatitulah dunia akan rela memberikan kehidupan yang damai, akhirat akan rindu pada jiwa-jiwa sederhana dan santun ini. Dan Allah SubhanAllahu wa Ta’ala akan segera memasukan fase keempat ini menuju ke fase kelima. Aamiiin. Dan Sang Maha PenggenggamTakdir akan memberikan Indonesia sebagai pemegang fase kelima ini.
Masih tentang kesederhanaan.
Teknologi yang serba canggih dan ribet pada abad 21 ini sejatinya juga membutuhkan sebuah kesederhanaan sebuah ilmu pada puncaknya. Dan puncak satu ilmu itu hanya Allah SubhanAllahu wa Ta’ala yang memiliki. Maka dari itu janganlah sombong. Karena seperti apa yang dimaksudkan Nabi bahwa orang yang di dalam hatinya ada kesombongan walau sebesar biji atom maka akan masukneraka. Na’udzubillah.
Sebagai penutup, mari kawan kita bermuhasabah pada diri kita sendiri. Apa saja dosa yang telah kita lakukan, dan seberapa sering kita mengucapkan kata istighfar dalam setiap hembusan nafas kita. Dan mari ingat, ingat, dan ingat kenikmatan Nya supaya kita bisa senantiasa bersyukur.

Salam sukses dunia dan akhirat

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s